Bengkulu, 18 November 2025 – Sejarah kolonial Bengkulu kembali mendapat perhatian luas melalui sosok Edward Coles, gubernur British East India Company (EIC) yang memimpin Fort Marlborough antara tahun 1781 hingga 1785. Dikenal luas di kalangan masyarakat lokal sebagai Master Badar, Coles adalah tokoh berdarah campuran Inggris–Bengkulu yang dikenang karena keberpihakannya pada rakyat dan keberaniannya menentang sistem kolonial yang menindas.
Dalam masa kepemimpinannya, Coles memperkenalkan berbagai reformasi penting: mulai dari memperbaiki sistem perdagangan lada, menjalin ulang relasi diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lokal, menata pasar dan pemukiman, hingga memperkuat administrasi internal Fort Marlborough. Sikapnya yang negosiatif dan peka terhadap hukum adat menjadikannya berbeda dari pejabat kolonial lain. Bahkan dalam kesaksiannya, Deputi Gubernur Bengkulu saat itu, Walter Ewer, menyebut Coles menolak disebut sebagai orang Inggris dan justru bangga menyatakan diri sebagai pribumi Bengkulu.
Setelah tidak lagi menjabat, Coles menetap di Bengkulu sebagai pengusaha dan pedagang, hingga wafat pada 23 Desember 1810. Ia dimakamkan di tanah yang telah ia perjuangkan bersama masyarakatnya. Kisahnya yang sempat tenggelam kini bangkit kembali lewat upaya ilmiah dan budaya yang dilakukan oleh kalangan akademisi lokal.
Harius Eko Saputra, dosen Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Dehasen Bengkulu (UNIVED), yang menjadi tokoh kunci dalam mengangkat kembali narasi Edward Coles. Dalam waktu empat bulan, ia memimpin riset sejarah mendalam yang melibatkan arsip kolonial, catatan silsilah lokal (tembo), serta penelusuran makam asli sang tokoh. Hasil dari riset tersebut dituangkan dalam buku berjudul “Sejarah Master Badar (Edward Coles), Governor of Bencoolen British East India Company (EIC) Fort Marlborough 1781–1785)”, yang telah dipresentasikan langsung di hadapan Kejaksaan Agung RI, Kejati Bengkulu, dan Pemerintah Provinsi Bengkulu.
“Penulisan ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang bagaimana kita bisa memahami ulang relasi kuasa, nilai keberpihakan, dan semangat keadilan dalam konteks sejarah lokal. Sosok Edward Coles layak dikenal, diteladani, dan dijadikan bagian dari narasi besar Indonesia,” ungkap Harius dalam presentasinya.
Buku ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menyebut karya tersebut sebagai langkah monumental dalam menghidupkan kembali warisan sejarah daerah. Jaksa Agung Muda Intelijen, Reda Manthovani—yang juga merupakan keturunan langsung Edward Coles—menyatakan dukungannya terhadap riset lanjutan, termasuk rencana penelusuran arsip ke Inggris dan India untuk memperkaya keakuratan sejarah. Selain akan diterbitkan secara luas di sekolah-sekolah Bengkulu, kisah Master Badar juga sedang dalam penjajakan untuk difilmkan oleh produser nasional.
Kiprah Harius Eko Saputra menunjukkan bahwa kontribusi dosen tidak berhenti di ruang kelas. Ia membuktikan peran akademisi dalam memperkuat identitas daerah, membangun kesadaran sejarah, dan menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif dari akar lokal ke panggung nasional.
Edward Coles alias Master Badar kini bukan lagi sekadar nama dalam arsip kolonial, melainkan representasi keberanian, keadilan, dan kepemimpinan pro-rakyat dari tanah Bengkulu—sebuah warisan sejarah yang relevan dan layak dikenalkan kembali kepada generasi Indonesia masa kini.
Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Dehasen Bengkulu
Luar biasa! Semoga buku sejarah oleh Pak Harius ini bukan hanya sebuah karya akademik, tetapi juga upaya menjaga memori kolektif dan mengenalkan sejarah kepada generasi muda. Semoga menjadi inspirasi bagi penulis dan peneliti lainnya.